Prasangka Baik, Kontrol Diri, dan Persaudaraan

Diposting pada

Vadcoy.com – Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.. Pada kali ini Mang Ocoy ingin membagikan Mapel Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti dengan materi “Prasangka Baik, Kontrol Diri, dan Persaudaraan”.

Materi tersebut merupakan Mapel PAI dan BP untuk kelas 10 SMA/SMK yang akan adek-adek pelajari. Mang Ocoy mengambil referensi materi tersebut dari buku Paket PAI Kelas 10. Semoga bisa bermanfaat bagi adek-adek kelas 10 SMA/SMK semuanya!

Prasangka Baik, Kontrol Diri, dan Persaudaraan

A. Prasangka Baik

Prasangka buruk (suudzon) dilarang karena prasangka buruk adalah suatu sikap/budi bekerti yang tidak berdasar pada fakta yang tepat. Seperti tidak bijak ketika membaca berita di media yang memberitakan kejelekan orang lain.
Padahal, kita diingatkan untuk menjauhi prasangka buruk dan mencari-cari kesalahan orang lain. Sebaliknya, kita diperintahkan untuk menyibukkan dengan mencari kesalahan dan keburukan diri kita sendiri agar kita dapat berinstropeksi diri terhadap kekurangan kita. Tentu saja agar kita memperbaiki kekurangan dan kesalahan kita.
Di antara penyebab utama prasangka buruk, mencari kesalahan orang lain, dan ghibah adalah adanya kebencian atau sakit hati terhadap orang tertentu. Oleh karena itu, perilaku ini harus dijauhi karena walaupun kejelekan tersebut memang sebuah kenyataan, tetapi hal ini sangat berbahaya dan bisa menjadi fitnah.
Fitnah adalah menyampaikan berita palsu (hoax) atau berita salah, tidak sesuai dengan kenyataan. Perbuatan fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Oleh karena itu, fitnah merupakan perbuatan keji yang harus dijauhi.
Akibat buruk dari fitnah di antaranya adalah mencoreng nama baik seseorang, dan menyebabkan perpecahan satu orang dengan orang yang lain. Bahkan, akibat buruk fitnah ini sangat sulit untuk dibenahi. Jika berita bohong sudah terlanjur tersebar, sangat sulit mencabutnya.
Perbuatan buruk sangka, mencari-cari kesalahan orang lain, dan menggunjing dalam kehidupan sehari-hari sulit dihindari karena adanya penyakit hati dalam diri kita.
Oleh karena itu, kita diperintahkan untuk mengontrol diri (mujahadah an-nafs) dari perbuatan dosa. Yaitu, mengontrol diri kita agar mencegah hawa nafsu untuk berprasangka buruk, agar tidak mencari-cari kesalahan orang lain, dan j tidak menggunjing orang lain.

Ada 3 jenis Prasangka Baik (Husnuzon) 

1. Husnuzhon kepada Allah
Berprasangka baik (husnuzhan) kepada Allah, artinya bahwa Allah Swt. memiliki sifat Maha sempurna, Maha Kuasa atas segala sesuatu, Maha Pengasih dan Penyayang kepada semua ciptaan-Nya.
Perwujudan husnuzhan kepada Allah Swt. antara lain:
  • Husnuzhan dalam bertaqwa kepada Allah Swt.
  • Husnuzhan dalam berdoa
  • Husnuzhan dalam berikhtiar dan bertawakal
2. Husnuzhon kepada orang lain
Husnuzhan kepada orang lain artinya seluruh ucapan, sikap dan perbuatan yang dilakukan oleh seseorang akan diterima apa adanya tanpa diringi oleh prasangka atau dugaan-dugaan yang bersifat negatif.
Mengembangkan sikap husnuzhan kepada orang lain dapat dilakukan dengan cara berusaha untuk melihat kebaikan orang lain dan mengakuinya dengan jujur atas segala kelebihan yang dimilikinya.
3. Husnuzhon kepada diri sendiri

Seseorang yang berprasangka baik kepada diri sendiri, akan menyadari bahwa setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan.
Oleh karena itu, seharusnya manusia senantiasa mensyukuri apapun yang sudah diberikan oleh Allah Swt. dan tidak perlu merasa rendah diri di hadapan orang lain. Boleh jadi kekurangan yang dimiliki oleh seseorang justru itulah kelebihan yang dimilikinya.

B. Kontrol Diri

Perilaku kontrol diri (mujahadah an-Nafs) akan menjadikan seseorang hidup damai di masyarakat. Kedamaian di masyarakat akan semakin kokoh jika dibarengi dengan sikap selalu berprasangka baik (husnuzhan) kepada sesama, serta menjaga semangat persaudaraan (ukhuwwah).
Tentunya setiap orang ingin hidup berdampingan secara damai. Sebagai makhluk sosial, manusia akan selalu membutuhkan orang lain. Oleh karena itu, perilaku mulia ini perlu dijaga dengan sebaik-baiknya demi meraih kedamaian hidup di masyarakat.

Cara menerapkan kontrol diri

  • Menghindari dan menjauhi perbuatan dosa dan maksiat.
  • Mengarahkan seluruh aktivitas hidup untuk meraih rida Allah Swt.
  • Menahan dan mengendalikan hawa nafsu.
  • Memperbanyak dan membiasakan dzikir kepada Allah Swt. (dzikrullah)
Silahkan baca juga:  Soal UAS/PAS PAI Kelas 7 SMP Semester 2 Tahun Ajaran 2020/2021

Berikut ini adalah hikmah perilaku kontrol diri (mujahadah an-nafs)

  • meningkatnya sifat sabar, dengan tidak cepat memberikan reaksi terhadap permasalahan yang timbul.
  • dapat mencegah perilaku buruk atau negatif dari seseorang.
  • mendapatkan penilaian yang positif dari lingkungan.
  • terbinanya hubungan baik dalam berinteraksi sosial dengan sesama.

C. Persaudaraan

Allah SWT berfirman dalam Q.S. Al-Hujurat ayat 10.
اِنَّمَا الۡمُؤۡمِنُوۡنَ اِخۡوَةٌ فَاَصۡلِحُوۡا بَيۡنَ اَخَوَيۡكُمۡ ‌ۚ‌وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُوۡنَ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”
Asbabunnuzul Q.S. al-Hujurat/49: 10

“Anas r.a. berkata: “Dikatakan kepada Nabi Saw. “Sebaiknya Baginda menemui ‘Abdullah bin Ubay.” Maka Nabi Saw. menemuinya dengan menunggang keledai, sedangkan kaum muslim berangkat bersama Beliau dengan berjalan kaki melintasi tanah yang tandus.
Ketika Nabi Saw. menemuinya, ia berkata: “Menjauhlah dariku, demi Allah, bau keledaimu menggangguku”. Maka berkatalah seseorang dari kaum Anshar, di antara mereka: “Demi Allah, sungguh keledai Rasulullah Saw. lebih baik daripada kamu”, maka seseorang dari kaumnya marah demi membela ‘Abdullah bin Ubay dan ia mencelanya, sehingga marahlah setiap orang dari masing-masing kelompok.
Saat itu kedua kelompok saling memukul dengan pelepah kurma, tangan, dan sandal. Kemudian sampai kepada kami bahwa telah turun ayat Q.S. al-Hujurat ayat 10  yang artinya (“jika dua kelompok dari kaum muslimin berperang maka damaikan keduanya”). (H.R. Bukhari)

Persaudaraan (ukhuwwah) dibagi 3

  1. Ukhuwwah Islamiyah, yaitu persaudaraan karena sama-sama memiliki persamaan agama dan keyakinan.
  2. Ukhuwwah Wathaniyah, yaitu persaudaraan karena sama-sama satu bangsa dan keterikatan keturunan tanpa membedakan suku, agama, warna kulit adat istiadat, budaya dan aspek-aspek lainnya.
  3. Ukhuwwah Insaniyah atau Basyariyah, yaitu persaudaraan karena sama-sama sebagai sesama manusia secara universal, tanpa membedakan ras, suku, bangsa, agama, warna kulit dan aspek-aspek lainnya.
Ketiga persaudaraan (ukhuwwah) tersebut harus dilaksanakan secara bersamaan, dan tidak boleh berdiri sendiri. Melaksanakan ketiga ukhuwwah tersebut secara bersamaan akan memperkuat tegaknya kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang aman dan tenteram.
Lebih dari itu Akan memunculkan solidaritas dan timbulnya kepedulian sosial di masyarakat. Sebagai sesama mukmin, maka kita harus mampu menjaga martabat dan kehormatan sesama mukmin.

Hal-hal yang dapat memperkokoh persaudaraan (ukhuwwah)

  1. Ta’aruf, saling mengenal antara umat Islam bukan hanya penampilan fisik namun juga tentang ide, gagasan dan lain sebagainya.
  2. Tafahum, dengan saling mengenal antara sesama umat Islam, maka akan timbul sikap berusaha untuk memahami saudaranya.
  3. Ta’awun, setelah saling memahami sudah terjalin, maka akan timbul sikap saling mendoakan dan saling menolong.
  4. Takaful, jika ketika sikap tersebut sudah terlaksana dengan baik maka akan timbul sikap senasib dan sepenanggungan seperti yang dicontohkan oleh sahabat-sahabat Anshar Madinah terhadap sahabat-sahabat Muhajirin dari Makkah.
Silahkan baca juga:  RPP PAI Kelas 3 Semester 2 Tahun 2020/2021, Materi Zikir dan Doa Setelah Salat

Hikmah Persaudaraan (ukhuwwah)

  1. menumbuhkan sikap saling memahami dan saling pengertian di antara sesama menumbuhkan sikap saling tolong-menolong,
  2. menumbuhkan sikap saling tolong-menolong
  3. menumbuhkan sikap saling menghormati dan menghargai akan melahirkan rasa persatuan dan kesatuan bangsa
  4. menimbulkan tenggang rasa dan tidak menzhalimi antara sesama.
  5. tercipta dan terjalinnya solidaritas yang kuat antara sesama muslim
  6. terbentuknya kerukunan hidup antara sesama warga masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *