Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Meneladani Sifat Rasul-rasul Allah dengan Santun

Vadcoy.com - Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.. Pada kali ini Saya ingin membagikan Mapel Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti dengan materi "Meneladani Sifat Rasul-rasul Allah dengan Santun".

Materi tersebut merupakan Mapel PAI dan BP untuk kelas 11 SMA/SMK yang akan adek-adek pelajari. Saya mengambil referensi materi tersebut dari buku Paket PAI dan BP Kelas 11 SMA/SMK. Semoga bisa bermanfaat bagi adek-adek kelas 11 SMA/SMK semuanya!

Meneladani Sifat Rasul-rasul Allah dengan Santun

Meneladani Sifat Rasul-rasul Allah dengan Santun

Berapa jumlah nabi dan rasul Allah? Dalam hadits Nabi Muhammad Saw. disebutkan, “Dari Abu Umamah, Abu Dzar berkata: “Aku bertanya: “Wahai Rasululllah, berapakah jumlah Nabi? Beliau menjawab: 124.000 Nabi.

Dari jumlah ini terdapat 315 rasul; dan itu adalah jumlah yang sangat banyak (HR. Ahmad). Dalam hadits lain disebutkan lebih dari 310 rasul. Adapun jumlah Nabi dan Rasul Allah Swt. yang disebutkan dalam Al-Qur’an adalah 25 (dua puluh lima). Berikut ini adalah 25 Rasul yang wajib kalian ketahui!

1. Adam As.  
2. Idris As.  
3. Nuh As.  
4. Hud As  
5. Salih As  
6. Ibrahim As. 
7. Luth As. 
8. Ismail As. 
9. Ishaq As. 
10. Ya’qub As. 
11. Yusuf As.
12. Ayub As.
13. Syuaib As.
14. Musa As.
15. Harun As.
16. Zulkifli As.
17. Dawud As.
18. Sulaiman As.
19. Ilyas As.
20. Ilyasa As. 
21. Yunus As.
22. Zakariya As.
23. Yahya As.
24. Isa As.
25.Muhammad Saw.

Allah SWT berfirman dalam Q.S. an-Nisa ayat 136.

يٰۤاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡۤا اٰمِنُوۡا بِاللّٰهِ وَرَسُوۡلِهٖ وَالۡكِتٰبِ الَّذِىۡ نَزَّلَ عَلٰى رَسُوۡلِهٖ وَالۡكِتٰبِ الَّذِىۡۤ اَنۡزَلَ مِنۡ قَبۡلُ‌ؕ وَمَنۡ يَّكۡفُرۡ بِاللّٰهِ وَمَلٰٓٮِٕكَتِهٖ وَكُتُبِهٖ وَرُسُلِهٖ وَالۡيَوۡمِ الۡاٰخِرِ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلٰلًاۢ بَعِيۡدًا

"Wahai orang-orang yang beriman! Tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya (Muhammad) dan kepada Kitab (Al-Qur'an) yang diturunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang diturunkan sebelumnya. Barangsiapa ingkar kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sungguh, orang itu telah tersesat sangat jauh."

Pengertian Rasul

Seringkali dalam kehidupan sehari-hari, kita mendengar istilah Rasul dan Nabi. Apa perbedaannya? Dari segi bahasa, kata Nabi dalam Kitab lisanul Arab berasal dari bahasa Arab, yaitu an-Nabiy yang merupakan turunan dari lafadz an-naba (berita).

Nabi yang membawa berita, kabar, dan wahyu kepada kaumnya. Hal ini bisa ditemukan dalam Q.S. al-Naba’/78: 2. Dinamakan nabi, karena menyampaikan berita. Rasul mempunyai arti utusan. Hal ini bisa dilihat dalam Q.S. an-Naml/27: 35. Persamaan antara nabi dan rasul adalah sama-sama utusan dari Allah Swt.

Perbedaan Nabi dan Rasul

1. Rasul adalah Seorang manusia diberi wahyu berupa syariat dan diperintahkan untuk menyampaikannya kepada umat manusia. Sedangkan Nabi adalah seorang manusia yang diberi wahyu berupa syariat, baik diperintahkan untuk menyampaikanya ataupun tidak.

2. Rasul adalah Manusia pilihan Allah Swt. yang diangkat sebagai utusan yang diberi wahyu dengan membawa syari’at baru. Sedangkan Nabi adalah Manusia pilihan Allah Swt. untuk menegaskan syariat umat sebelumnya.

Nah, sekarang ada yang tahu, apa yang dimaksud dengan Iman kepada Rasul Allah? Iman kepada Rasul Allah adalah mempercayai, meyak ini dengan sepenuh hati bahwa Allah telah benar-benar mengutus Rasul-Rasul Allah yang ditugaskan untuk membimbing umatnya ke jalan yang benar agar selamat di dunia dan akhirat.

Sifat-sifat Nabi dan Rasul

1. Shiddiq artinya benar. Segala sesuatu yang diucapkan oleh para nabi adalah kebenaran dan tidak mungkin melenceng dari kenyataan. Allah Swt. menyifati para Nabi-Nya dengan kejujuran. Contoh kejujuran Nabi Idris a.s. ditegaskan dalam Q.S. Maryam/19: 56, kejujuran Nabi Ibrahim a.s. diterangkan dalam Q.S. Maryam/19: 41, dan kejujuran Nabi Muhammad Saw. dijelaskan dalam Q.S. alAhzāb/33: 22.

2. Amanah artinya dapat dipercaya. Nabi dan Rasul harus menyampaikan seluruh perintah Allah dan larangan-Nya kepada hamba-hamban-Nya tanpa menambah ataupun mengurangi, tanpa mengubah atau mengganti.

3. Tabligh artinya menyampaikan. Tugas pertama Rasul Allah adalah menyampaikan kepada umatnya. Nabi dan Rasul telah menyampaikan sepanjang hari tanpa mengenal lelah dan bosan,sehingga, hujah dapat ditegakkan di tengah-tengah kaum.

4. Fathanah artinya cerdas. Sifat-sifat ini sangat jelas dalam Al-Qur’an di dalam sejarah para nabi dan rasul.

Sifat-sifat di atas disebut dengan sifat wajib rasul, sifat yang pasti dimiliki seorang. Kebalikan sifat wajib adalah sifat mustahil, sifat yang tidak mungkin dimiliki seorang rasul. Adapun sifat mustahil rasul adalah:

1. Kidzib artinya berdusta. Maksud kata kidzib yaitu Rasul tidak mungkin berdusta dalam ucapan maupun perbuatan.

2. Khianat artinya ingkar janji. Maksud kata khianat yaitu Rasul tidak mungkin berkhianat terhadap yang telah diamanahkan kepadanya

3. Kitman artinya menyembunyikan. Maksud kata kitman yaitu Rasul tidak mungkin menyembunyikan wahyu yang telah diterima

4. Baladah artinya bodoh. Maksud kata baladah yaitu Rasul tidak mungkin itu bodoh. Rasul adalah pribadi yang cerdas.

Tugas Rasul

1. Menyampaikan amanat Allah dengan jelas
Para rasul adalah duta-duta Allah yang diutus kepada para hamba-Nya. Mereka adalah para pembawa wahyu Allah. Tugas utamanya menyampaikan amanat yang diembannya kepada manusia. Tercantum dalam Q.S. Al-Maidah/5: 67.

2. Menyeru umatnya kepada Allah
Para rasul mempunyai tugas untuk menyeru kepada umatnya agar menyembah Allah Swt. Tercantum dalam Q.S. al-Anbiyā’/21: 25.

3. Membawa kabar gembira dan memberi peringatan
Dalam mengemban tugas, rasul Allah ditugaskan untuk menyampaikan kabar gembira dan juga peringatan kepada umatnya. Mengapa? Dalam berdakwah kepada Allah sangat erat dengan penyampaian kabar gembira dan peringatan (ancaman). Hal ini sesuai dengan Q.S. al-Kahf/18: 56.

4. Nabi Muhammad Saw. menyampaikan risalah untuk rahmat bagi alam semesta, sebagaimana Tercantum dalam Q.S. al-Anbiyā’/21: 107.

5. Manusia lebih mengenal hakikat dirinya bahwa manusia diciptakan Allah adalah untuk mengabdi dan menyembah kepada Allah Swt. Tercantum dalam Q.S. az-Zariyat/51: 56.

Kisah Nabi Muhammad dan Wanita Tua

Dalam diri Nabi Muhammad Saw. selalu ada nilai keteladanan (Q.S. al-Ahzab/33: 21). Salah satunya teladan dalam kesabaran. Ketika Nabi disakiti, beliau tidak pernah membalasnya. Nabi menghadapinya dengan kesabaran.

Dikisahkan, setiap kali Nabi Saw. melintas di depan rumah seorang wanita tua, Nabi selalu diludahi oleh wanita tua itu. Suatu hari, saat Nabi Saw. melewati rumah wanita tua itu, beliau tidak bertemu dengannya.

Karena penasaran, beliau pun bertanya kepada seseorang tentang wanita tua itu. Justru orang yang ditanya itu merasa heran, mengapa ia menanyakan kabar tentang wanita tua yang telah berlaku buruk kepadanya.

Setelah itu Nabi Saw. mendapatkan jawaban bahwa wanita tua yang biasa meludahinya itu ternyata sedang jatuh sakit. Bukannya bergembira, justru beliau memutuskan untuk menjenguknya. Wanita tua itu tidak menyangka jika Nabi mau menjenguknya.

Ketika wanita tua itu sadar bahwa manusia yang menjenguknya adalah orang yang selalu diludahinya setiap kali melewati depan rumahnya, ia pun menangis di dalam hatinya, “Duhai betapa luhur budi manusia ini. Kendati tiap hari aku ludahi, justru dialah orang pertama yang menjengukku.”

Dengan menitikkan air mata haru dan bahagia, wanita tua itu lantas bertanya, “Wahai Muhammad, mengapa engkau menjengukku, padahal tiap hari aku meludahimu?” Nabi Saw. menjawab, “Aku yakin engkau meludahiku karena engkau belum tahu tentang kebenaranku. Jika engkau telah mengetahuinya, aku yakin engkau tidak akan melakukannya.”

Mendengar jawaban bijak dari Nabi, wanita tua itu pun menangis dalam hati. Dadanya sesak, tenggorokannya terasa tersekat. Lalu, dengan penuh kesadaran, ia berkata, “Wahai Muhammad, mulai saat ini aku bersaksi untuk mengikuti agamamu.”

Lantas wanita tua itu mengikrarkan dua kalimat syahadat, “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.” Demikianlah salah satu kisah teladan kesabaran Nabi Muhammad Saw. yang sungguh menakjubkan dan sarat akan nilai keteladanan.

Nabi Saw. tidak pernah membalas keburukan orang yang menyakitinya dengan keburukan lagi, tetapi Nabi justru memaafkannya. Dalam syair dikatakan, sabar memang pahit seperti namanya, tetapi akibatnya lebih manis dari madu.

Masih banyak kisah tentang kesabaran Nabi lainnya yang hendaknya terus digali, lalu disosialisasikan, dan berikutnya diteladani.

Itulah Mapel atau materi pelajaran yang berjudul "Meneladani Sifat Rasul-rasul Allah dengan Santun" yang bisa Saya bagikan. Semoga bisa bermanfaat bagi adek-adek semuanya..

Posting Komentar untuk "Meneladani Sifat Rasul-rasul Allah dengan Santun"